Sabtu, 15 Mei 2010

Memafkan, Sikap paling mulia

Kita memahami, setiap manusia mencintai darah daging dan keturunnanya. Allah S.W.T memberikkan amanah kepada manusia, diberi penerus generasi berupa anak. Namun satu hal yang harus kita ingat, anak itu adalah itu adalah titipan Allah. Maka kita harus selalu siap bahwa suatu nanti mereka akan diambil yang Menitipkan. Allah S.W.T berpirman," dan Allah sekali-kali tidak menangguhkan kematian seseorang, apabila datang kematiannya. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan," (QS AL-Munafiqun:11). Kematiian adalah takdir yang oleh Allah sudah ditentukan. Hanya manusia tidak tau, kapan takdir itu di akan berlaku. Salah satu teladan Rasululah yang perlu kita teladani adalah beliau rendah hati, dan lembah lembut, sehingga musuhpun takluk dengan sikap itu. Betapa banyak musuh yang mau membunuh rasullulah, tapi ahirnya masuk islam, karena prilaku beliau tidak pernah dendam, sebaliknya malah mendoakan musuh-musuhnya. Setelah peristiwa Fathul Makkah, dimana para kafirin Qoraish gemetar mengira Rasullulah akan menghukum mati mereka, apa yang beliau lakukan ? Rasullulah malah membebaskan musuh-musuh Islam tersebut. Para kafirrin bersukur dan tidak menyangka akan menerima perlakuan tersebut. Ahirnya, mungkin sikap Rasullulah dapat kita coba aplikasikan dalam kehidupan kita. Kita menyadari, berat untuk melakukannya, tapi itulah tuntunan agama kita: dengan memaafkan, kita menatap hari esok tampa beban. Bukankah kita semua akan kembali kepada Allah, dan masing-masing orang akan diminta pertanggung jawabannya? Insya Allah, dengan begitu kita akan menjadi mukhlisin, hamba yang ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar